Wasiat Imam Abu Hanifah Untuk Santri Yang Ingin Pulang





 

Dalam agama islam, menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban bagi setiap insan baik laki-laki maupun perempuan. Sebagaimana sabda Nabi Saw, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim dan Muslimah” (HR. Ibnu Majah dari Anas RA).

Kitab Ta'lim Mutaallim
Alburhan Zarnuji, dalam bukunya yang sangat popular. Sebagaimana sabda Nabi Saw, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim dan M di kalangan santri, yaitu kitab Ta'lim Mutallim, mengatakan bahwa hendaknya kamu mencari ilmu yang sebaik-baiknya yang sesuai dengan dirimu dan waktumu. Tentunya ilmu yang dibutuhkan disini adalah ilmu Hal (tawhid, fiqh dan tasawwuf). Pelajarilah ilmu, sesungguhnya ilmu adalah permata dunia yang paling berharga. Ilmu yang sesungguhnya adalah yang menjaga dan memperindah pagi si pemilik ilmu itu.

Sebagaimana syair dalam kitab tesebut, ‘Dan menyelamlah kalian akan ilmu’.

Ilmu bagaikan mutiara di lautan. Jika ada yang ingin mendapatkannya, cobalah menyelam seperti menyelam dalam lautan. Demikian pula, ilmu itu bagaikan bak mutiara di lautan; dibutuhkan upaya besar untuk memperoleh ilmu. Seperti kita ketahui, ketika kita menjadi santri, kita banyak menghabiskan waktu untuk belajar, pagi, siang dan sore hari untuk belajar, menghafal dan mengulang ilmu. Karena hasil dari menuntut itu ada apabila ilmu yang telah didapatkan diulang-ulang dan diamalkan.

Al-Imam Burhanuddin Al-Zarnuji, dalam kitabnya sangat digemari para santri; Ta’lim al-Muta’allim, berpesan kepada para santri yang ingin kembali ke daerahnya dan menyelesaikan masa perantauannya dalam menuntut ilmu agar minimal membaca  wasiat yang  diberikan  Abu Hanifah kepada muridnya, Yusuf bin Khalid al-Simti. .

Karena pentingnya wasiat ini, Imam Zarnuji pun  diperintahkan oleh gurunya, Imam Ali bin Abu Bakr, untuk menulis wasiat  sebagai dokumen untuk menuntut sang Imam ketika berinteraksi dengan masyarakat luas. 

Diakui atau tidak, berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain adalah  seni yang harus dipelajari oleh orang yang berpengalaman. Dan di antara ulama yang benar-benar memahami hakikat manusia adalah Imam Abu Hanifah, seorang ulama yang sering memberikan nasehat dan bimbingan kepada santri dan santrinya sebelum kembali ke tanah air dan mengabdi kepada masyarakat. 

Kali ini saya akan mengambil sedikit potongan dari Wasiat imam Abu Hanifah. Meski ini hanya sekedar tulisan, semoga bisa dijadikan pelajaran dan jalan mencari pengalaman.

Saat itu, Yusuf bin Khalid al-Simti meminta izin untuk "membawa" gurunya Imam Abu Hanifah ke kampung halamannya dan meninggalkan tempat ia menuntut ilmu. Ia tidak diperbolehkan melakukannya langsung tetapi disuruh menunggu hingga keesokan harinya agar guru dapat menyiapkan barang-barangnya ketika ia kembali ke rumah.

Besok telah tiba. Imam Abu Hanifah mulai berbicara dengan Yusuf dengan  basmalah.

“Aku akan memberitahumu apa yang akan kamu hadapi di sana nanti. Bayangkan jika saya pergi bersamamu ke Basra dan  langsung berhadapan dengan orang-orang yang pandangannya berbeda dengan Anda. Anda bertindak sangat baik dan banyak berbicara di depan mereka. Kamu menghina mereka sampai mereka mengutuk kamu juga, kamu membohongi mereka dan menyebut mereka sesat, kemudian mereka  langsung menyerang kamu juga, akhirnya kamu tidak  betah lagi dan merasa diperlakukan tidak adil. Pada akhirnya kamu pun mengasingkan diri, dan pindah ke tempat lain, dan ini bukanlah yang aku inginkan!.”

Yusuf berkata, “Aku begitu tercengang dengan apa yang diucapkan Abu Hanifah.”

Kitab-Kitab
Imam Abu Hanifah melanjutkan, “Jika nanti kamu sudah masuk ke Bashrah, dan masyarakat mulai berdatangan dan mengenal dirimu, maka berikan setiap orang haknya; Muliakan orang yang mulia, hormatilah orang yang berilmu, dekatilah orang banyak, berikan perhatian kepada ahli maksiat, berteman baik dengan orang-orang hebat, dan jangan pernah meremehkan pemerintah.”

“Jangan pernah sesekali menganggap hina satu orang pun yang datang kepadamu, jangan sebarkan rahasia mu kepada siapapun, jangan memberikan kepercayaan kepada seseorang kecuali jika kamu sudah mengenal dekat dengannya.”

“Jangan terlalu dekat dengan orang-orang bodoh, jangan sembarangan menerima hadiah, teruslah bersabar, berakhlak baik dan berlapang dada. Bersihkan selalu pakaianmu, rapikan tungganganmu, dan rajinlah menggunakan minyak wangi, buatlah tempat dudukmu dekat dengan masyarakat dan di waktu yang mudah diketahui.”

“Jagalah setiap shalatmu, dan dermakan makanan yang kamu punya; karena belum pernah ada seorang dipilih menjadi tokoh sedangkan ia adalah seorang yang pelit. Carilah seorang informan yang kamu jadikan sebagai sumber untuk mengetahui berita terbaru yang terjadi di masyarakat sekitar, jika kamu mengetahui ada sesuatu yang tidak baik terjadi, segeralah untuk diperbaiki, dan jika kamu lihat hanya kebaikan, maka teruslah kembangkan.”

“Biasakan untuk berkunjung ke rumah orang-orang yang biasa bertamu ke rumahmu, atau bahkan mengunjungi orang yang belum pernah bertamu ke rumahmu. Teruslah berbuat baik kepada orang yang berbuat baik padamu dan juga kepada orang yang menyakitimu. Teruslah member maaf dan perintahkan mereka melakukan kebaikan. Lupakan semua sikap orang-orang yang membuatmu membencinya, abaikan semua orang yang pernah menyakitimu, dan jangan pernah lalai untuk menghargai segala haknya.

“Jika di antara mereka ada yang sakit, segeralah menjenguknya, atau setidak-tidaknya kirimkan utusan untuk menyampaikan salammu. Dan bila ada yang tidak hadir dalam majlismumu, cobalah untuk mengenal orang itu. "

" Terus jaga hubungan baik walaupun dengan orang jahat’.

Komentar

Postingan Populer