Perihal Cinta, Doa dan Kitab Lauhul Mahfudz
Perihal cinta, jika sudah berani bergelut dalam cinta mencintai maka harus berani untuk sakit terhadap reaksi dari perasaan cinta itu. Sebab setiap aksi berkonsekuensi memunculkan reaksi sebagaimana hukum Aksi-reaksi dalam rumus fisika.
Ketika mencintai berarti ada 2 hal yang bakal dialami. Pertama, bahagia apabila yang dicintai bisa dimiliki. Kedua, sabar atas cinta yang tak bisa dimiliki. Yah memang membahas perihal cinta agak cukup meyesakkan, ya.
Orang-orang bilang ketika mencintai seseorang maka sampaikanlah, sebab kalau tidak nanti keburu diambil orang. Tapi ada yang bilang, tak perlu menyatakan cinta cukup sebut namanya saja dalam doa. Ada juga yang bilang, tak perlu menyebutkan namanya dalam doa sebab tuhan lebih mafhum perihal jodoh dan karena kita juga punya keterbatasan dalam melihat sesuatu yang masih mubham. Jadi, ya tak perlu sebutkan namanya, cukup berdoa saja yang terbaik menurut-Nya.
Dari beberapa opini diatas, memang ada benarnya semuanya, tapi membuat galau diri bagi yang mengalaminya.
Namun, jika sudah saatnya untuk menyampaikan cinta terhadap seseorang, ya nyatakan saja sebagaimana mestinya.
Tapi jika belum mampu untuk menyatakan cinta, ya boleh-boleh saja menyebutkan namanya dalam doa. Bukan suatu masalah jika hanya menyebutkan namanya saja dalam doa, toh kan sebagaimana yang kita ketahui "Doa adalah doa. Usaha adalah usaha". Tapi doa adalah sebagian dari pada usaha. Bukan usaha melawan batas takdir-Nya melainkan usaha untuk meyakinkan diri atas batasan ketetapan-Nya. Yang salahnya jika berdoa namun memaksakan takdir untuk bersatu dan bersegera memilikinya.
Berlanjut pada opini selanjutnya, tak perlu menyebutkan namanya dalam doa karna tuhan lebih mafhum perihal jodoh. Ini pun sangat setuju. Karena belum tentu yang di hati itu yang terbaik menurut-Nya. Saya pernah baca sebuah iqtibas yang berbunyi: "tak perlu menyebutkan namanya dalam doamu karena kita tidak tau apakah dia yang terbaik menurut-Nya atau tidak. Lebih baik langitkan saja doa tanpa nama, Allah akan memberikan orang yang terbaik untukmu".
Hmm, entahlah. Jika sudah membahas perihal satu ini, ya sudah pasti tidak ada habisnya.
Perihal cinta memang serumit itu, yah. Tapi terlepas dari semua itu, setiap dari kita sudah ada takdir yang tertulis didalam "Kitab Lauhul Mahfudz". Baik itu jodoh, rezeki dan ajal juga sudah tercantum serapi mungkin didalam kitab lauhul mahfudz. Tapi ingat doa dan usaha memanglah sebuah keharusan bagi setiap insan. Namun kembali lagi semuanya bisa berubah atas kehendak-Nya. Sebesar apapun kita berusaha dan berdoa jika memang bukan dia ya tidak dengan dia. Begitupun sebaliknya, walau tak kita doakan dan bukan yang diinginkan, jika yang tertulis didalam kitab Lauhul Mahfudz adalah namanya ya tetap dialah orangnya.
Bukankah bagi pecinta sejati, memiliki cinta saja sudah cukup baginya?
Jodoh itu sudah ada, tinggal bagaimana kita berusaha menjemput takdir. Maka berbaik sangkalah terhadap ketetapannya yang telah tertulis seindah mungkin didalam Kitab Lauhul Mahfudz.

Komentar
Posting Komentar